Sabtu, 30 Maret 2013

MAKALAH PERKEMBANGAN MORAL

PERKEMBANGAN MORAL



MAKALAH
UNTUK MEMENUHI TUGAS MATAKULIAH
Perkembangan Peserta Didik
yang dibina oleh Dra. Elia Flurentin, M.Pd



Disusun oleh:
Eva Yuliawati    (110211413064)
Monika Shinta Omega    (110211413057)
Nurma Atina    (110211413037)
Roisah Amilina    (110211413031)
Tyas Wiku Muliandari    (110211413034)
Offering A






UNIVERSITAS NEGERI MALANG
FAKULTAS SASTRA
JURUSAN SASTRA INDONESIA
Februari 2013

PERKEMBANGAN MORAL

Masyarakat tidak dapat berfungsi tanpa aturan yang memberitahukan mengenai bagaimana berkomunikasi satu sama lain, bagaimana menghindari untuk menyakiti orang-orang lain, dan bagaimana bergaul dalam kehidupan pada umunya. Anak-anak dengan remaja memiliki pemahaman berbeda mengenai peraturan. Begitu juga remaja memiliki pandangan yang berbeda dengan orang tua dan sebaliknya. Hal ini menunjukkan adanya perkembangan dalam penalaran dan moral dari individu. Pada makalah ini akan dibahas mengenai pengertian perkembangan moral, tahap-tahap perkembangan moral, karakteristik perkembangan moral, faktor-faktor yang mempengaruhi perkembangan moral, perbedaan individual, ciri-ciri perkembangan moral, dan upaya pengembangan moral pada remaja.

PENGERTIAN PERKEMBANGAN MORAL
Sebelum memahami pengertian perkembangan moral maka terlebih dahulu perlu dipahami pengertian moral. Menurut Purwadarminto (dalam Sunarto, 2008) moral adalah ajaran tentang baik buruk perbuatan dan kelakuan, akhlak, kewajiban, dan sebagainya. Moral berkaitan dengan kemampuan untuk membedakan antara perbuatan yang benar dan yang salah. Dengan demikian, moral merupakan kendali dalam bertingkah laku.
Santrock mengemukakan pengertian moralitas yaitu perilaku proporsional ditambah beberapa sifat seperti kejujuran, keadilan, dan penghormatan terhadap hak-hak dan kebutuhan-kebutuhan orang lain. Kolhberg (dalam Santrock, 2002:370) menekankan bahwa perkembangan moral didasarkan terutama pada penalaran moral dan berkembang secara bertahap.
Perkembangan moral (moral development) berkaitan dengan aturan dan konvensi tentang apa yang seharusnya dilakukan oleh manusia dalam interaksinya dengan orang lain. Dalam mempelajari aturan-aturan ini para pakar perkembangan akan menguji tiga bidang yang berbeda yaitu: (1) Bagaimana anak-anak bernalar atau berpikir tentang aturan-aturan untuk perilaku etis; (2) Bagaimana anak-anak sesungguhnya berperilaku dalam keadaan bermoral; (3) Bagaimana anak merasakan hal-hal moral itu.
Perkembangan moral (moral development) melibatkan perubahan seiring usia pada pikiran, perasaan, dan perilaku berdasarkan prinsip dan nilai yang mengarahkan bagaimana seseorang seharusnya bertindak. Perkembangan moral memiliki dimensi intrapersonal (nilai dasar dalam diri seseorang dan makna diri) dan dimensi interpersonal (apa yang seharusnya dilakukan orang dalam interaksinya dengan orang orang lain) (King, 2006).

TAHAP PERKEMBANGAN MORAL
Menurut Piaget (dalam Slavin, 2008:69)
Sebagaimana kemampuan kognitif, Piaget berpendapat bahwa perkembangan moral berlangsung dalam tahap-tahap yang dapat diprediksi, yakni dari tipe penalaran moral yang sangat egosentris ke tipe penalaran moral yang didasarkan pada sistem keadilan berdasarkan kerjasama dan ketimbalbalikan. Piaget menamai tahap pertama perkembangan moral sebagai moralitas heteronom; hal ini juga disebut tahap “realisme moral” atau “moralitas paksaan”. Heteronom berarti tunduk pada aturan yang diberlakukan oleh orang-orang lain. Selama periode ini, anak-anak yang masih muda terus menerus diberitahu tentang apa yang harus dilakukan dan apa yang tidak boleh dilakukan. Pelanggaran aturan diyakini membawa hukuman otomatis. Keadilan dilihat sebagai sesuatu yang otomatis, dan orang-orang yang jahat pada akhirnya akan dihukum. Piaget juga menggambarkan anak-anak pada tahap ini menilai moralitas perilaku berdasarkan konsekuensi-konsekuensi berikutnya. Mereka menilai perilaku sebagai sesuatu yang jahat kalau hal itu menghasilkan konsekuensi negatif sekalipun maksud semula pelakunya adalah baik.
Piaget menemukan bahwa anak-anak usia 10 atau 12 tahun cenderung mendasarkan penilaian moral pada maksud pelakunya alih-alih konsekuensi tindakan tersebut. Tahap kedua ini dinamakan aturan moralitas otonomi atau “moralitas kerja sama”. Moralitas tersebut muncul ketika dunia sosial anak itu berkembang hingga meliputi makin banyak teman. Dengan terus-menerus berinteraksi dan bekerja sama dengan anak-anak lain, gagasan anak tersebut tentang aturan dan kerena itu juga moralitas mulai berubah. Kini aturan adalah apa yang kita buat sebagai aturan. Hukuman atas pelanggaran tidak lagi otomatis tetapi harus diberikan dengan pertimbangan maksud pelanggar dan lingkungan yang meringankan. Anak mengalami kemajuan dari tahap moralitas heteronom ke tahap moralitas otonom dengan perkembangan struktur kognitif tetapi juga karena interaksi dengan teman-teman yang mempunyai status yang sama. Dia percaya bahwa menyelesaikan konflik dengan teman-teman memperlemah sikap anak-anak mengandalkan otoritas orang dewasa dan meningkatkan kesadaran mereka bahwa aturan padat diubah dan seharusnya ada hanya sebagai hasil persetujuan bersama.

Menurut Kohlberg (dalam Ormord, 2000:371)
Kohlberg mengemukakan ada tiga tingkat perkembangan moral, yaitu tingkat prakonvensional, konvensional dan post-konvensional. Masing-masing tingkat terdiri dari dua tahap, sehingga keseluruhan ada enam tahapan (stadium) yang berkembang secara bertingkat dengan urutan yang tetap.
1.    Tingkat Penalaran Prakonvensional
Pada penalaran prakonvensional anak tidak memperhatikan internalisasi nilai-nilai moral-penalaran moral dikendalikan oleh imbalan (hadiah) dan hukuman eksternal. Pada tingkat ini terdapat dua tahap.
a.    Tahap satu yaitu orientasi hukuman dan ketaatan (punihsment and obedience orientation) ialah tahap penalaran moral didasarkan atas hukuman. Anak-anak taat karena orang-orang dewasa menuntut mereka untuk taat.
b.    Tahap dua ialah individualisme dan tujuan (individualism and purpose) ialah tahap penalaran moral didasarkan atas imbalan (hadiah) dan kepentingan sendiri. Anak-anak taat bila mereka ingin dan butuh untuk taat. Apa yang benar adalah apa yang dirasakan baik dan apa yang dianggap menghasilkan hadiah.
2.    Tingkat Penalaran Konvensional
Pada tingkat ini, internalisasi indivdual ialah menengah. Seseorang menaati standar-standar (internal) tertentu, tetapi mereka tidak menaati standar-standar orang lain (eksternal), seperti orang tua atau aturan-atuaran masyarakat.
c.    Tahap tiga ialah norma-norma interpersonal (interpersonal norms). Pada tahap ini, seseorang menghargai kebenaran, kepedulian, dan kesetiaan kepada orang lain sebagai landasan pertimbangan moral. Anak-anak sering mengadopsi standar-standar moral orang tuanya pada tahap ini, sambil mengharapkan dihargai oleh orang tuanya sebagai seorang “perempuan yang baik” atau seorang “laki-laki yang baik.”
d.    Tahap empat yaitu moralitas sistem sosial (social system morality). Pada tahap ini pertimbangan-pertimbangan didasarkan atas pemahaman aturan sosial, hukum-hukum, dan kewajiban. 
3.    Tingkat Penalaran Pascakonvensional
Tingkat ini ialah tingkat tertinggi dalam teori perkembangan moral kohlberg. Pada tingkat ini moralitas benar-benar diinternalisasikan dan tidak didasarkan pada standar-standar orang lain. Seseorang mengenal tindakan-tindakan moral alternatif, menjajaki pilihan-pilihan, dan kemudian memutuskan berdasarkan suatu kode moral pribadi.
e.    Tahap lima ialah hak-hak masyarakat Vs hak-hak individual (community rights Vs individual rights). Pada tahap ini, seseorang memahami bahwa nilai-nilai dan aturan-aturan adalah bersifat relatif dan bahwa standar dapat berbeda dari satu orang ke orang lain. Seseorang menyadari bahwa hukum penting bagi masyarakat, tetapi juga mengetahui bahwa hukum dapat diubah. Seseorang percaya bahwa beberapa nilai, seperti kebebasan, lebih penting dari pada hukum.
f.    Tahap keenam ialah prinsip-prinsip etis universal (universal ethical principles). Pada tahap ini seseorang telah mengembangan suatu standar moral yang didasarkan pada hak-hak manusia yang manusia yang universal. Bila menghadapi konflik antara hukum dan suara hati, seseorang akan mengikuti suara hati, walaupun keputusan itu mungkin melibatkan resiko pribadi.


KARAKTERISTIK PERKEMBANGAN MORAL REMAJA
Tabel Tren Perkembangan Moral (Ormord, 2000:134)
Janjang/ Usia (Th)    Karakteristik yang sesuai usia
X-2    •    Kemampuan membedakan antara perilaku yang melanggar hak dan harkat manusia dan perilaku yang melanggar kaidah sosial.
•    Tumbuhnya kesadaran bahwa perilaku yang menimbulakan bahaya fisik dan psikologis secara moral salah.
•    Perasaan bersalah atas penyimpangan-penyimpanagn perilaku yang menimbulkan bahaya fisik dan psikologis secara moral salah.
•    Tumbuhnya empati dan munculnya usaha untuk menghibur orang-orang yang sedang berkesusahan, terurtama orang yang dikenal baik.
•    Perhatian yang lebih besar pada kebutuhan-kebutuhan diri sendiri dibandingkan pada kebutuhan orang lain.
3-5    •    Pengetahuan tentang kaidah-kaidah sosial mengenai perilaku yang tapat.
•    Perasaan malu dan bersalah bila melakukan pelanggran moral.
•    Meningkatnya empati terhadap individu-individu yang belum dikenal, yang menderita atau kekurangan.
•    Pemahaman bahwa seseorang seharusnya berusaha sungguh-sungguh memenuhi kebutuhan orang lain sekaligus juga kebutuhannya sendiri.
•    Meningkatnya hasrat untuk menolong orang lain semata-mata karena perbuatan itu baik dalam dirinya sendiri (bukan memdapatkan balasan atau semacamnya).
6-8    •    Kecenderungan menganggap peraturan-peraturan dan kaidah-kaidah sebagai standar yang harus didikuti demi kewajiban terhadap pereturan itu sendiri, dengan kata lain, diikuti karena peraturan mewajibkannya.
•    Minat untuk menyenangkan dan menolong orang lain, namun dengan tendensi terlalu menyederhanakan apa itu “menolong orang lain”.
•    Kecenderungan untuk meyakini bahwa kesusahan yang dialami para individu (misalnya para tunawisma) sepenuhnya merupakan tanggung jawab mereka sendiri.
9-12    •    Pemahaman bahwa peraturan-peraturan dan kaidah-kaidah sosial membantu masyarakat berkembang secar lebih baik.
•    Meningkatnya kepedulian untuk melaksanakan tugasnya sendiri dan tuduk pada peraturan-peraturan masyarakat secara utuh alih-alih sekadar menyenangkan figur-figur yang memiliki otoritas
•    Empati yang murni terdap mereka yang berkesusahan
•    Keyakinan bahwa masyarakat bertanggung jawab menolong orang lain yang membutuhkan.

Michel meringkas lima perubahan dasar dalam moral yang harus dilakukan oleh remaja (Hurlock, 1980:225) sebagai berikut:
1)    Pandangan moral individu makin lama makin menjadi lebih abstrak.
2)    Keyakinan moral lebih terpusat pada apa yang benar dan kurang pada apa yang salah. Keadilan muncul sebagai kekuatan moral yang dominan.
3)    Penilaian moral menjadi semakin kognitif. Hal ini mendorong remaja lebih berani mengambil keputusan terhadap berbagai masalah moral yang dihadapinya.
4)    Penilaian moral menjadi kurang egosentris.
5)    Penilaian moral secara psikologis menjadi lebih mahal dalam arti bahwa penilaian moral merupakan bahan emosi dan menimbulkan ketegangan emosi.
Kehidupan moral merupakan problematika yang pokok dalam masa remaja. Maka perlu kiranya untuk meninjau perkembangan moralitas ini mulai dari waktu anak dilahirkan, untuk dapat memahami mengapa justru pada masa remaja hal tersebut menduduki tempat yang sangat penting.

FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PERKEMBANGAN MORAL
    Para peneliti perkembangan telah mengidentifikasi sejumlah faktor yang berhubungan dengan perkembangan penalaran dan perilaku moral:

Perkembangan Kognitif Umum
Penalaran moral yang tinggi yaitu penalaran yang dalam mengenai hukum moral dan nilai-nilai luhur seperti kesetaraan, keadilan, hak-hak asasi manusia dan memerlukan refleksi yang mendalam mengenai ide-ide abstrak. Dengan demikian dalam batas-batas tertentu, perkembangan moral tergantung pada perkembangan kognitif. (Kohlberg dalam Ormord, 2000:139).
Contoh: anak-anak secara intelektual berbakat umumnya lebih sering berpikir entang isu moral dan bekerja keras mengatasi ketidakadilan di masyarakat lokan ataupun dunia secara umum ketimbang teman-teman sebayanya (Silverman dalam Ormord, 200:139). Meski demikian, perkembangan kognitif tidak menjamin perkembangan moral.

Penggunaan Rasio dan Rationale
Anak-anak lebih cenderung memperoleh manfaat dalam perkembangan moral ketika mereka memikirkan kerugian fisik dan emosional yang ditimbulkan perilaku-perilaku tertentu terhadap orang lain. Menjelaskan kepada anak-anak alasan perilaku-perilaku tertentu tidak dapat diterima, dengan focus pada perspektif orang lain, dikenal sebagai induksi (Hoffman dalam Ormord, 2000:140).
Contoh: induksi berpusat pada korban induksi membantu siswa berfokus pada kesusahan orang lain dan membantu siswa memahami bahwa mereka sendirilah penyebab kesesahan-kesusahan tersebut. Penggunaan konduksi secara konsisten dalam mendisiplinkan anak-anak, terutama ketika disertai hukuman ringan bagi perilaku yang menyimpang misalnya menegaskan bahwa mereka harus meminta maaf atas perilaku yang keliru.



Isu dan Dilema Moral
Kolhberg dalam teorinya mengenai teori perkembangan moral menyatakan bahwa disekuilibrium adalah anak-anak berkembang secara moral ketika mereka menghadapi suatu dilemma moral yang idak dapat ditangani secara memadai dengan menggunakan tingkat penalaran moralnya saat itu. Dalam upaya membantu anak-anak yang mengahdapi dilema semacam itu Kulhborg menyarankan agar guru menawarkan penalaran moral satu tahap di atas tahap yang dimilik anak pada saat itu.
Contoh: bayangkanlah seorang remaja laki-laki yang sangat mementingkan penerimaan oleh teman-teman sebayanya, dia rela membiarkan temannya menyali pekerjaan rumahnya. Gurunya mungkin menekankan logika hokum dan keteraturann dengan menyarankan agar semua siswa seharusnya menyelesaikan pekerjaan rumahnya tanpa bantuan orang lain karena tugas-tugas pekerjaan rumah dirancang untuk membantu siswa belajar lebih efektif.

Perasaan Diri
Anak-anak lebih cenderung terlibat dalam perilaku moral ketika mereka berfikir bahwa mereka sesungguhnya mampu menolong orang lain dengan kata lain ketika mereka memiliki efikasi diri yang tinggi mengenai kemampuan mereka membuat suatu perbedaan (Narvaez dalam Ormrod, 200:140).
    Contoh: pada masa remaja beberapa anak muda mulai mengintegrasikan komitmen terhadap nilai-nilai moral kedalam identitas mereka secara keseluruhan. Mereka menganggap diri mereka sebagai pribadi bermoral dan penuh perhatian, yang peduli pada hak-hak dan kebaikan orang lain. Tindakan belarasa yang mereka lakukan tidak terbatasa hanya pada teman-teman dan orang yang mereka kenal saja, melainkan juga meluas ke masyarakat.

PERBEDAAN INDIVIDUAL DALAM PERKEMBANGAN MORAL
Bayi tidak memiliki hierarki nilai dan suara hati. Bayi tergolong nonmoral, tidak bermoral maupun tidak amoral, dalam artian bahwa perilakunya tidak dibimbing norma-norma moral. Lambat laun ia akan mempelajari kode moral dari orang tua dan kemudian dari guru-guru dan teman bermain dan juga ia belajar pentingnya mengikuti kode-kode moral ini.
Belajar berperilaku moral yang diterima oleh sekitarnya merupakan proses yang lama dan lambat. Tetapi dasar-dasarnya diletakkan dalam masa bayi dan berdasarkan dasar-dasar inilah bayi membangun kode-kode moral yang membimbing perilaku bila telah menjadi besar nantinya. Karena keterbatasan kecerdasannya, bayi menilai benar atau salahnya suatu tindakan menurut kesenangan atau kesakitan yang ditimbulkannya dan bukan menurut baik atau buruknya efek suatu tindakan terhadap orang-orang lain.
Pada masa remaja sesorang mampu mempertimbangkan semua kemungkinan untuk menyelesaikan suatu masalah dan mempertanggung-jawabkannya berdasarkan suatu hipotesis atau proposisi. Jadi seseorang telah dapat memandang masalahnya dari beberapa sudut pandang dan menyelesaikannya dengan mengambil banyak faktor sebagai bahan pertimbangan.
Pengertian moral pada anak-anak umur sepuluh atau sebelas tahun berbeda dengan anak-anak yang lebih tua. Pada anak-anak terdapat anggapan bahwa aturan-aturan adalah pasti dan mutlak oleh karena diberikan oleh orang dewasa atau Tuhan yang tidak bisa diubah lagi (Kohlberg, 1963).
Untuk sebagian remaja serta orang dewasa yang penalarannya terhambat atau kurang berkembang, tahap perkembangan moralnya ada pada tahap prakonvensional. Pada tahap ini seseorang belum benar-benar mengenal apalagi menerima aturan dan harapan masyarakat. Pedoman meraka hanyalah menghindari hukuman. Sedangkan bagi mereka yang dapat mencapai tingkat kedua sudah ada pengertian bahwa untuk memenuhi kebutuhan sendiri seseorang juga harus memikirkan kepentingan orang lain.

UPAYA MENGEMBANGKAN MORAL REMAJA
Tidak semua individu mencapai tingkat perkembangan moral seperti yang diharapkan, maka kita dihadapkan dengan masalah pembinaan. Adapun upaya-upaya yang dapat dilakukan dalam mengembangkan moral remaja adalah:


Menciptakan Komunikasi
Dalam komunikasi didahului dengan pemberian informasi tentang moral. Anak-anak harus dirangsang supaya lebih aktif. Hendaknya ada upaya untuk mengikutsertakan remaja dalam beberapa pembicaraan dan dalam pengambilan keputusan keluarga, sedangkan dalam kelompok sebaya, remaja turut serta secara aktif dalam tanggung jawab dan penentuan maupun keputusan kelompok.

Menciptakan Iklim Lingkungan yang Serasi
Lingkungan merupakan faktor yang cukup luas dan sangat bervariasi, maka tampaknya yang perlu diperhatikan adalah lingkungan sosial terdekat yang terutama terdiri dari mereka yang berfungsi sebagai pendidik dan pembina, yaitu orang tua dan guru.
Untuk remaja, moral merupakan suatu kebutuhan tersendiri oleh karena mereka sedang dalam keadaan membutuhkan pedoman atau petunjuk dalam rangka mencari jalannya sendiri. Pedoman ini juga untuk menumbuhkan identitas dirinya, menuju kepribadian yang matang dan menghindarkan diri dari konflik-konflik peran yang selalu terjadi dalam masa transisi ini.
Nilai-nilai keagamaan perlu mendapat perhatian, karena agama juga mengajarkan tingkah laku yang baik dan buruk, sehingga secara psikologis berpedoman kepada agama termasuk dalam final.

Mendorong perilaku dan perkembangan moral di dalam kelas
Beberapa individu yang beritikad baik menyatakan bahwa mesyarakat sedang mengalami kemerosotan moral yang drastis dan mendesak para orang tua dan para pendidik untuk menanamkan nilai-nilai moral yang baik (kejujuran, kesetiaan, tanggungjawab, dan lain-lain) melalui pelajaran di rumah dan di sekolah, serta melalui kontrol yang tegas terhadap perilaku anak-anak. Kenyataannya tidak ada bukti generasi anak muda sekarang berada pada pada tingkat moral atau proposional yang rendah dibandingkan dengan generasi terdahulu (Turiel dalam Jeanne, 2000:141). Selain itu, mengajari siswa mengenai perilaku yang tepat secara moral dan menerapkan kontrol yang tegas terhadap tindakan mereka dalam rangka menanamkan serangkaian moral tertentu hanya memiliki sedikit dampak terhadap mereka. Hal yang sama juga berlaku untuk kebiasaan membacakan cerita yang mengandung pesan-pesan moral (Narvaez dalam Jaenne, 2002:143). Meski demikian beberapa strategi dapat membuat perbedaan. Berikut ini adalah beberapa saran umum:
1.    Jelaskan mengapa beberapa perilaku tidak dapat diterima
2.    Doronglah sikap selalu prespektif orang lain, empati, dan perilaku prososial
3.    Perlihatkan kepada siswa berbagai contoh perilaku moral
4.    Libatkan para siswa dalam diskusi-diskusi mengenai isu-isu moral yang berhubungan dengan materi pokok akademis
5.    Ajaklah siswa untuk terlibat aktif dalam pelayanan masyarakat.




DAFTAR RUJUKAN

Sunarto, Hartono Agung. 2008. Perkembangan Peserta Didik. Jakarta: Rineka Cipta.
Slavin, Robert E. 2008. Psikologi Pendidikan: Teori dan Praktik. Jakarta: PT. Indeks.
Ormord, Jeanne Ellis. 2000. Psikologi Pendidikan Membantu Siswa Tumbuh dan Berkembang. Bandung: Media Sasana.
Santrock, John. W. 2002. Life-Span Development Perkembangan Masa Hidup. Jakarta: Erlangga.
King, Laura A. 2006. Psikologi umum: sebuah pandangan apresiatif. Salemba: Salemba Humanika 
Hurlock, Elizabeth B. 1980. Psikologi Perkembangan: Suatu Pendekatan Sepanjang Rentang Kehidupan. Jakarta: Erlangga.


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar